Oknum Kades Bone Tertangkap Tangan Bawa Sabu di Sidrap

Masrudin
29 Jul 2025 12:34
Headline 0 282
2 menit membaca

Sidrap, Sidraptimur.com – Malam gelap menjadi saksi terbongkarnya sisi kelam seorang pemimpin desa. Seorang kepala desa aktif asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, berinisial AA (41), tertangkap tangan membawa sabu-sabu di wilayah Sidrap.

Penangkapan berlangsung pada Sabtu malam, 26 Juli 2025, di Jalan Pengairan, Kelurahan Rijang Pittu, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap.

Pelaku bukan sembarang orang. Ia masih menjabat sebagai kepala desa aktif. Sosok yang seharusnya menjadi panutan, malah terlibat dalam jaringan peredaran narkoba.

AA ditangkap bersama rekannya, AT (36). Keduanya tengah melintas dari arah Rappang menuju Pangkajene. Mereka dibuntuti oleh tim Satresnarkoba Polres Sidrap, dipimpin IPTU Didi Sutikno Mugiarno dan IPDA Azriel Munandar.

Saat kendaraan dihentikan dan digeledah, polisi menemukan puluhan gram sabu-sabu siap edar, dua unit ponsel, dan satu kendaraan sebagai barang bukti.

“Kami sangat menyayangkan. Pelaku adalah kepala desa aktif. Ini bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat,” ujar IPTU Didi.

Penangkapan ini sontak mengguncang publik. Jabatan strategis tak membuat pelaku kebal hukum. Justru, status sebagai pejabat desa memperparah citra dan menambah luka kepercayaan masyarakat.

Kapolres Sidrap, AKBP Fantry Taherong, melalui Kasat Narkoba menegaskan, tak ada toleransi bagi siapa pun yang terlibat narkoba.

“Kepala desa atau siapa saja, kalau kedapatan membawa sabu, pasti kami tindak tegas. Sidrap bukan tempat aman bagi pengedar narkoba,” tegasnya.

Kini, oknum Kades AA harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia dijerat dengan Pasal 114 dan 112 UU Narkotika, dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara.

Nama baik sebagai pemimpin desa pun runtuh seketika.

Warga Bone dan Sidrap kini dibuat bertanya-tanya: Sejauh mana narkoba telah merasuki lingkungan aparat pemerintah?

Kejadian ini menjadi tamparan keras. Bukan hanya soal narkoba, tapi juga menyangkut integritas dan moralitas pemimpin.

Jabatan tinggi tak menjamin bersih dari jerat narkoba. Bahkan, ketika kekuasaan digunakan untuk menutupi kejahatan, jatuhnya pun lebih menyakitkan.(*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *