
Sidrap, Sidraptimur.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin Posko 115 Desa Kampale, Kecamatan Duapitue, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), menghadirkan inovasi pengelolaan sampah organik melalui pemanfaatan maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). Minggu 21 Januari 2026.
Program ini menjadi terobosan ramah lingkungan yang tidak hanya menekan volume sampah, tetapi juga menghasilkan pakan alternatif bernilai tinggi untuk kebutuhan budidaya ikan, unggas, dan ternak.
Inovasi tersebut merupakan bagian dari program kerja KKN yang fokus pada edukasi lingkungan, pengurangan sampah organik, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan limbah menjadi produk bermanfaat. Melalui pendekatan sederhana dan mudah diterapkan, mahasiswa KKN Unhas berupaya memperkenalkan model pengelolaan sampah berkelanjutan yang dapat dipraktikkan hingga tingkat rumah tangga.
Inovasi Lokal untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Program pengelolaan sampah berbasis maggot ini dirancang setelah tim KKN melakukan observasi terhadap peningkatan sampah organik rumah tangga di Desa Kampale yang selama ini belum tertangani secara optimal. Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN Posko 115 mengambil peran sebagai fasilitator untuk mengenalkan metode budidaya maggot sebagai solusi pengurai alami yang efektif.
Dalam kegiatan yang melibatkan warga setempat sebagai peserta utama, mahasiswa memberikan edukasi sekaligus praktik langsung mengenai pengolahan sampah organik menggunakan maggot. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sampah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan dapat dikonversi menjadi sumber daya baru yang bernilai ekonomi.
Mengubah Sampah Menjadi Pakan Bernilai Tinggi
Warga Desa Kampale diperkenalkan pada seluruh tahapan budidaya maggot, mulai dari pemilahan bahan organik, proses pembiakan larva, hingga pemanfaatannya sebagai pakan ternak yang kaya protein. Mahasiswa KKN juga menggelar demonstrasi praktik budidaya menggunakan media sederhana yang dapat diterapkan di pekarangan rumah maupun skala kelompok.
Model ini dianggap efisien karena mampu menghasilkan pakan alternatif dengan biaya rendah, sekaligus mengurangi ketergantungan warga terhadap pakan komersial yang harganya semakin tinggi.
Apresiasi dari Warga Desa Kampale
Nanda Aris, salah satu warga yang mengikuti kegiatan, mengapresiasi inovasi yang diperkenalkan oleh mahasiswa KKN Unhas 115.
“Program maggot ini sangat bagus karena bisa mengurangi sampah sekaligus membantu masyarakat mendapatkan pakan ternak yang lebih murah dan mudah,” ujarnya.
Ia menilai inovasi tersebut layak dikembangkan secara jangka panjang, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sebagai peluang usaha baru bagi warga Desa Kampale.
Harapan dan Dampak ke Depan
Mahasiswa KKN Unhas 115 berharap program ini tidak berhenti pada tahap sosialisasi, melainkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di Desa Kampale. Dengan penerapan budidaya maggot secara mandiri, desa diharapkan semakin bersih, produktif, dan mampu menyediakan sumber pakan alternatif yang ramah lingkungan sekaligus hemat biaya.
Tidak ada komentar