crossorigin="anonymous">

Sidrap, Sidraptimur.com — Bunyi alu yang beradu dengan lesung kembali terdengar di Desa Buae, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Ahad (4/10/2026).
Suasana rumah Wa’ Dewe hari itu ramai. Warga berkumpul dalam pesta panen Mappadendang, sebuah tradisi yang masih dijaga masyarakat sebagai ungkapan syukur setelah melewati musim panen.
Bukan sekadar acara seremonial, Mappadendang menjadi ruang bagi warga untuk bertemu, bersilaturahmi dan menikmati kembali tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pesta panen itu juga dihadiri Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif. Ia datang bersama masyarakat dan ikut merasakan suasana kebersamaan yang tercipta dalam tradisi tersebut.
Suara alu dan lesung menjadi penanda khas Mappadendang. Di tengah suara itu, warga tampak antusias mengikuti rangkaian acara. Keceriaan pun terasa di antara warga yang datang dari berbagai kalangan.
Bagi masyarakat Buae, Mappadendang bukan hanya tentang hasil panen. Di balik tradisi itu ada rasa syukur, kebersamaan dan semangat gotong royong yang terus dipertahankan.
Syaharuddin mengapresiasi masyarakat Desa Buae yang masih menjaga tradisi tersebut.
Menurutnya, Mappadendang memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pesta setelah panen.
«“Mappadendang ini bukan hanya pesta setelah panen. Ini adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah atas hasil yang telah diberikan. Yang paling penting, tradisi seperti ini mampu mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan,” ujar Syaharuddin.»
Ia berharap tradisi seperti Mappadendang tetap hidup dan dikenalkan kepada generasi muda. Sebab, menurutnya, budaya lokal bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat yang perlu dijaga.
«“Kalau masyarakat berkumpul seperti ini, kita bisa merasakan kebersamaan. Tradisi seperti Mappadendang harus terus kita rawat, karena ini adalah bagian dari identitas masyarakat kita,” katanya.»
Syaharuddin juga mengingatkan masyarakat agar rasa syukur atas hasil panen diikuti dengan semangat untuk terus meningkatkan produktivitas pertanian.
“Setelah kita bersyukur atas hasil panen, mari kita terus bekerja dan meningkatkan hasil pertanian. Pemerintah akan terus berupaya hadir bersama masyarakat, terutama dalam mendukung sektor pertanian,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, turut hadir Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Perempuan, dan Perlindungan Anak Andi Surya Praja, Camat Watang Pulu Mansyur, serta sejumlah tokoh masyarakat.
Mappadendang di Buae akhirnya bukan hanya menjadi cerita tentang panen.
Di antara bunyi alu dan lesung, warga kembali menunjukkan bahwa tradisi lama masih bisa hidup di tengah masyarakat hari ini—menjadi tempat berkumpul, berbagi kebahagiaan, sekaligus mengingat kembali pentingnya rasa syukur dan kebersamaan.
Tidak ada komentar