“Siri’ Na Pacce” Kobarkan Semangat: Penyambutan Meriah Syaqirah DA7 di Sidrap Disiapkan

Masrudin
22 Nov 2025 18:03
2 menit membaca

Sidrap,Sidraptimur.com — Dukungan luar biasa masyarakat Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Sulawesi Selatan terhadap kontestan D’Academy 7, Andi Syaqirah Jainal, kembali menegaskan bagaimana filosofi Bugis-Makassar “Siri’ Na Pacce” menjadi napas dalam setiap perjuangan dan kebersamaan warganya.

Usai terhenti di babak Top 7 Dangdut Academy 7 (DA7), Syaqirah dijadwalkan pulang kampung dan menyapa langsung para pendukung yang sejak awal setia mengawal langkahnya. Agenda penyambutan itu rencananya berlangsung pada Minggu, 23 November 2025, di Tanrutedong, Kecamatan Duapitue—wilayah yang selama ini menjadi salah satu episentrum kekompakan supporter Syaqirah.

Kedatangan Syaqirah diprediksi bakal menjadi momen emosional. Bagi masyarakat, ia bukan hanya finalis kompetisi dangdut nasional, melainkan simbol harapan dan representasi talenta daerah yang berhasil menembus panggung besar. Banyak warga menyebut kepulangannya ibarat “anak rantau yang kembali membawa cerita perjuangan”, sekalipun belum mencapai puncak kemenangan.

Dari perjalanan sang “peri kecil” ini, tampak jelas bagaimana soliditas masyarakat Sidrap bergerak layaknya orkestra besar: serempak, terstruktur, dan penuh ketulusan. Dukungan itu bukan hadir secara spontan, melainkan diorkestrasi langsung oleh kepala daerah, yang berdiri paling depan menjadi teladan militansi dan loyalitas bagi seluruh warga.

Kekuatan dukungan tersebut lahir bukan semata-mata karena rasa peduli, tetapi sebagai wujud cinta yang menyala antara pemimpin dan warganya. Syaqirah dianggap seperti anak sendiri yang harus dijaga martabat dan perjalanannya, sesuai filosofi Bugis-Makassar bahwa kehormatan (siri’) adalah mahkota yang tidak boleh jatuh, dan empati (pacce) adalah tali yang mengikat setiap hati dalam rasa senasib sepenanggungan.

Nilai-nilai itu pula yang membuat warga tetap berdiri kokoh meski langkah Syaqirah terhenti lebih cepat dari harapan. “Kalah menang itu biasa, tapi perjuangan tidak boleh berhenti,” begitu prinsip yang diyakini masyarakat di balik setiap suara dukungan.

Kompetisi mungkin usai, tetapi apa yang terjadi di Sidrap menunjukkan satu hal: dangdut masih memiliki rumah besar di hati masyarakat, dan talenta seperti Syaqirah mampu menyatukan ribuan orang dalam satu irama dukungan yang sama.

Kepulangan Syaqirah kelak akan menjadi babak baru—bukan akhir, melainkan awal perjalanan seorang putri daerah yang telah membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal batas wilayah. Dan Sidrap, dengan seluruh cintanya, siap kembali menjadi panggung pertama bagi langkah-langkah berikutnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *