Kisah Kampung Unik di Sulawesi Tenggara Dalamnya Ada Benteng Terluas di Dunia

Masrudin
3 Jul 2023 12:55
Ragam 0 458
3 menit membaca

Sidraptimur.com – Sulawesi Tenggara memang terkenal dengan panorama alamnya yang tak perlu diragukan lagi.

Terlebih, jika singgah ke salah satu kampung di Sulawesi Tenggara yang membuat siapapun betah berlama-lama tinggal di sana.

Kampung yang terletak di Sulawesi Tenggara ini memiliki sebuah kisah unik yang tepat dijadikan santapan para pecinta sejarah.

Karena terkenal akan keindahan pemandangan alamnya, kampung ini sampai terpilih menjadi salah satu bagian dari 50 Desa Terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada tahun 2022 lalu yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Desa Limbo Wolio namanya, lokasinya berada di Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Desa yang dikenal dengan pesona alamnya itu dikelilingi hamparan perbukitan hijau, laut yang jernih, serta hamparan pasir putih nan lembut.

Beberapa pantai indah yang ada di Desa Limbo Wolio, antara lain: Pantai Liabuku, Pantai Kamali, Pantai Kapontori, dan Pantai Bungi.

Pantai-pantai tersebut memiliki ciri khas tersendiri.

Selain itu, desa tersebut juga terkenal akan wisata baharinya, seperti Pulau Labengki, Pulau Sombori, dan Pulau Hoga, yang menyuguhkan keindahan bawah laut yang menakjubkan bagi para penyelam.

Di Desa Limbo Wolio terdapat sebuah benteng peninggalan Kesultanan Buton yang diberi nama Benteng Wolio.

Benteng itu memiliki desain arsitektur cukup unik yang terbuat dari batu kapur.

Dilansir MalangNetwork.com dari laman Jadesta Kemenparekraf, konon, batuan kapur tersebut direkatkan dengan campuran putih telur, pasir, dan kapur.

Bangunan yang berbentuk lingkaran tersebut memiliki diameter 2.740 meter.

Saking luasnya, Benteng Wolio sampai memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) dan Guiness Book Record pada bulan September 2006 sebagai benteng terluas di dunia dengan luas sekitar 23,375 hektar

Benteng tersebut diperkirakan dibangun pada abad kelima belas di bawah pemerintahan La Sangaji, Sultan Buton III.

Benteng ini selesai dibangun pada tahun 1645.pada masa pemerintahan Sultan Buton VI, yakni La Buke.

Pembangunan Benteng Wolio dimaksudkan untuk perlindungan dan pertahanan pada masa Kesultanan Buton.

Di dalam benteng tersebut terdapat tiga komponen penting, di antaranya: badili (meriam), lawa (pintu gerbang), dan baluara (bastion).

Adili yang ada di Benteng Wolio adalah meriam yang terbuat dari besi tua dan berukuran dua sampai tiga depa.

Lawa dalam bahasa Wolio dapat diartikan sebagai pintu gerbang yang berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung yang ada di sekitar Benteng Wolio.

Konon, Desa Limbo Wolio dulunya merupakan pusat Kerajaan dan Kesultanan Buton.

Namun, Desa Limbo Wolio saat ini, secara administratif dinamakan Kelurahan Melai.

Kata “Wolio” berasal dari kata ‘welia’ yang berarti menebas.

Kata “walia” sendiri berhubungan dengan aktivitas para pendiri Kerajaan Buton yang dulu sempat menebas hutan belukar yang dijadikan sebagai pemukiman seperti saat ini.***

Serma Afzalul Rahman dan Warga Setempat Lanjutkan Pemasangan Atap MCK di Dusun 3 Paraja
Kapolda Sulsel Menerima Penghargaan “KPK Award” 2024 Atas Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi
Kapolsek Dua Pitue Serahkan Bansos ke Dhuafa dan Lansia.31 Maret 2023 – 17:36BERBAGI– Kapolsek Dua Pitue, Polres Sidrap Iptu Bachri yang didampingi Wakapolsek Iptu Irwan Taufiq bersama Personil Polsek Dua Pitue melakukan penyerahan bantuan sosial (Bansos) berupa Paket Sembako. Jumat, (31/3/2023)Paket Sembako yang berisi Beras, Minyak Goreng, Indomie, Telur dan Gula Pasir tersebut diserahkan langsung kepada warga yang kurang mampu di wilayah hukum Polsek Dua Pitue.Adapun warga yang menerima bantuantersebut merupakan masyarakat betul betul dibawah garis kemiskinan dan perlu perhatian khusus dari pihak Pemerintah DaerahYakni, Ilampuce (75) Irt alamat Desa Kalosi Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidrap, dan Masyur (60) Petani yang beralamat Jalan Dongi Desa Salobukkang, Kecamatan Dua Pitue, Sidrap, Sulsel“Pemberian bantuan (Sembaro) kepada warga kurang mampu yang kami diserahkan langsung merupakan langkah Polri dalam upaya meringankan beban masyarakat yang membutuhkan, yang berada dalam situasi ekonomi yang sulit.” Ujar Iptu BachriTidak menutup kemungkinan masih ada warga lain yang tinggal di desa yang terpencil diwilayah hukum Polsek Dua Pitue yang belum terdata di Dinsos Sidrap maupun dari Kementerian Pemerintah Pusat.“Untuk itu, perlu kiranya Bhabinkamtibmas untuk segera mendata warga yang betul betul tidak mampu dan tidak terdata sebagai penerima bantuan dari Pemerintah Daerah maupun dari Pemerintah Pusat.” Sambung KapolsekGiat Bansos yang dilaksanakan Personil Polsek Duapitue ini, juga sebagai bentuk tindak lanjut dari program prioritas Bapak AKBP Erwin Syah Kapolres Sidrap.
Sah Dilantik! Kapolres Sidrap Beri Pesan Penting untuk Anggota DPRD Sidrap Periode 2024-2029
Dihadiri Presiden, Kapolri Pastikan Beri Pengamanan-Pelayanan Terbaik May Day Fiesta
Masuki Purna Bakti, AKBP Sudirno Sampaikan Permintaan Maaf dan Pamit Kepada Personil Polres Sidrap

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *