Bagikan

Sidraptimur.com – Sulawesi Tenggara memang terkenal dengan panorama alamnya yang tak perlu diragukan lagi.

Terlebih, jika singgah ke salah satu kampung di Sulawesi Tenggara yang membuat siapapun betah berlama-lama tinggal di sana.

Kampung yang terletak di Sulawesi Tenggara ini memiliki sebuah kisah unik yang tepat dijadikan santapan para pecinta sejarah.

Karena terkenal akan keindahan pemandangan alamnya, kampung ini sampai terpilih menjadi salah satu bagian dari 50 Desa Terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada tahun 2022 lalu yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Desa Limbo Wolio namanya, lokasinya berada di Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Desa yang dikenal dengan pesona alamnya itu dikelilingi hamparan perbukitan hijau, laut yang jernih, serta hamparan pasir putih nan lembut.

Beberapa pantai indah yang ada di Desa Limbo Wolio, antara lain: Pantai Liabuku, Pantai Kamali, Pantai Kapontori, dan Pantai Bungi.

Pantai-pantai tersebut memiliki ciri khas tersendiri.

Selain itu, desa tersebut juga terkenal akan wisata baharinya, seperti Pulau Labengki, Pulau Sombori, dan Pulau Hoga, yang menyuguhkan keindahan bawah laut yang menakjubkan bagi para penyelam.

Di Desa Limbo Wolio terdapat sebuah benteng peninggalan Kesultanan Buton yang diberi nama Benteng Wolio.

Benteng itu memiliki desain arsitektur cukup unik yang terbuat dari batu kapur.

Dilansir MalangNetwork.com dari laman Jadesta Kemenparekraf, konon, batuan kapur tersebut direkatkan dengan campuran putih telur, pasir, dan kapur.

Bangunan yang berbentuk lingkaran tersebut memiliki diameter 2.740 meter.

Saking luasnya, Benteng Wolio sampai memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) dan Guiness Book Record pada bulan September 2006 sebagai benteng terluas di dunia dengan luas sekitar 23,375 hektar

Baca Juga:   Polsek Maritengngae Sidrap Berhasil Mendamaikan Dua Siswi Yang Bertikai di Pelataran Stadion Ganggawa Sidrap

Benteng tersebut diperkirakan dibangun pada abad kelima belas di bawah pemerintahan La Sangaji, Sultan Buton III.

Benteng ini selesai dibangun pada tahun 1645.pada masa pemerintahan Sultan Buton VI, yakni La Buke.

Pembangunan Benteng Wolio dimaksudkan untuk perlindungan dan pertahanan pada masa Kesultanan Buton.

Di dalam benteng tersebut terdapat tiga komponen penting, di antaranya: badili (meriam), lawa (pintu gerbang), dan baluara (bastion).

Adili yang ada di Benteng Wolio adalah meriam yang terbuat dari besi tua dan berukuran dua sampai tiga depa.

Lawa dalam bahasa Wolio dapat diartikan sebagai pintu gerbang yang berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung yang ada di sekitar Benteng Wolio.

Konon, Desa Limbo Wolio dulunya merupakan pusat Kerajaan dan Kesultanan Buton.

Namun, Desa Limbo Wolio saat ini, secara administratif dinamakan Kelurahan Melai.

Kata “Wolio” berasal dari kata ‘welia’ yang berarti menebas.

Kata “walia” sendiri berhubungan dengan aktivitas para pendiri Kerajaan Buton yang dulu sempat menebas hutan belukar yang dijadikan sebagai pemukiman seperti saat ini.***