“Kalosi Jadi Desa Percontohan Pengelolaan Aset dan Kemandirian Ekonomi di Sidrap”

Masrudin
23 Jan 2026 11:12
Ekonomi 0 112
3 menit membaca

Kalosi, Sidraptimur.com— Di Desa Kalosi, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang, upaya memperkuat kemandirian desa mulai dirasakan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan pemerintah desa. Perlahan namun pasti, desa ini bergerak menyusun strategi untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) dengan menghidupkan kembali potensi lokal yang selama ini terabaikan.

Kepala Desa Kalosi, Abd. Malik, melihat bahwa masa depan desa tidak boleh terus bergantung pada aliran dana transfer pemerintah pusat maupun daerah. Ia percaya bahwa Desa Kalosi memiliki kekuatan yang dapat digerakkan jika dikelola dengan serius dan melibatkan masyarakat.

“PAD itu ruang nafas bagi desa. Kalau semuanya bergantung pada bantuan, gerak kita terbatas,” tuturnya, penuh keyakinan.

Dari pemikiran itu, pemerintah desa mulai melakukan pendataan ulang aset desa. Tanah kas desa, bangunan-bangunan lama, hingga fasilitas umum yang selama ini sekadar menjadi bagian dari lanskap desa, kini kembali diperiksa fungsinya. Pemerintah desa ingin memastikan mana yang bisa dihidupkan kembali dan mana yang dapat menjadi sumber ekonomi baru.

“Kami tidak ingin membangun sesuatu yang jauh dari realitas warga. Yang kami lakukan hanyalah memaksimalkan apa yang sudah lama dimiliki desa,” kata Abd. Malik.

Prosesnya berjalan dengan keterbukaan. Aset desa dibahas bersama warga dalam musyawarah, sebuah ruang yang sudah menjadi tradisi kuat di Kalosi. Di sana, warga menyampaikan pandangan, menjaga agar setiap langkah pembangunan tidak menciptakan persoalan di kemudian hari.

Selain aset desa, perhatian besar juga diarahkan pada BUMDes Kalosi. Pemerintah desa ingin badan usaha ini benar-benar hidup, bukan sekadar nama di papan informasi. Unit usaha dirancang sesuai kebutuhan warga—mulai dari layanan desa, pengelolaan hasil pertanian, hingga usaha perdagangan kecil yang dapat menjadi tumpuan tambahan bagi masyarakat.

“Harapan kami sederhana: BUMDes ini harus terasa hadir di kehidupan warga,” ujar Abd. Malik.

Warga pun menjadi bagian penting dalam perjalanan ini. Mereka dilibatkan sebagai tenaga kerja, pengelola, hingga pengawas usaha desa. Bagi Abd. Malik, pelibatan warga adalah cara terbaik menjaga keberlanjutan.

“Kalau masyarakat merasa memiliki, usaha desa akan bertahan lama. Mereka menjaga karena itu bagian dari mereka sendiri,” katanya.

Transparansi menjadi prinsip lain yang tak dilepas. Setiap pemasukan PAD dipublikasikan melalui papan informasi desa dan disampaikan kembali dalam rapat resmi desa. Di Kalosi, keterbukaan adalah cara untuk membangun rasa percaya.

Dari langkah-langkah sederhana ini, hasil mulai terlihat. PAD Desa Kalosi memang belum melonjak tajam, tetapi peningkatan yang ada cukup memberi dorongan bagi pembangunan dan pelayanan dasar. Bagi pemerintah desa, kemajuan kecil tetap berarti.

Abd. Malik memandang masa depan Kalosi dengan optimisme. “Yang penting, kita melangkah konsisten. Desa ini harus berdiri di atas kekuatannya sendiri,” ujarnya.

Kalosi perlahan menata jalannya—bukan dengan gebrakan besar, melainkan lewat kerja tenang, rapi, dan dekat dengan warganya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *