crossorigin="anonymous"> Kemarau El Nino Tak Patahkan Semangat Petani Botto, Panen Raya Dirayakan dengan Mappadendang

Kemarau El Nino Tak Patahkan Semangat Petani Botto, Panen Raya Dirayakan dengan Mappadendang

Masrudin
14 Sep 2026 10:00
Sidrap 0 7
2 menit membaca

Sidrap, Sidraptimur.com — Di tengah teriknya kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino, rasa syukur justru mengalir deras di Desa Botto, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Para petani bersama masyarakat menggelar Mappadendang, pesta panen raya yang menjadi tradisi turun-temurun sebagai ungkapan syukur atas hasil pertanian yang berhasil diperoleh. Momentum penuh kebersamaan itu berlangsung, Senin (14/9/2026).

Kemeriahan Mappadendang semakin terasa dengan hadirnya Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif di tengah masyarakat. Kehadirannya menjadi bagian dari syukuran sekaligus bentuk apresiasi terhadap perjuangan petani yang tetap mampu menjaga produktivitas di tengah ancaman kekeringan.

Bukan tanpa alasan. Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi petani, terutama pada lahan yang mengandalkan curah hujan. Namun, sebagian besar hamparan sawah di Desa Botto tetap mampu menghasilkan panen.

Dari total 1.073 hektare lahan persawahan, sebanyak 1.036 hektare berhasil dipanen. Sementara 37 hektare lainnya mengalami gagal panen.

Yang menggembirakan, produktivitas lahan yang berhasil dipanen tergolong tinggi, dengan rata-rata mencapai 8 ton gabah per hektare.

“Mappadendang ini merupakan bentuk rasa syukur kita terhadap hasil panen yang telah kita dapatkan,” ujar Syaharuddin.

Menurutnya, lahan yang mengalami gagal panen sebagian besar merupakan sawah tadah hujan yang sangat rentan terhadap kondisi kekeringan.

“Dari total 1.073 hektare, yang gagal panen hanya 37 hektare. Itu pun sawah tadah hujan. 

Sementara, sebanyak 1.036 hektare berhasil panen dengan rata-rata produksi mencapai 8 ton per hektare,” jelasnya.

Capaian tersebut menjadi kabar baik bagi para petani Desa Botto. Di tengah kemarau yang menguji ketahanan sektor pertanian, hasil panen yang diperoleh menunjukkan bahwa produktivitas petani tetap mampu dipertahankan.

Mappadendang pun bukan sekadar pesta setelah panen. Di balik bunyi alu dan lesung serta kebersamaan warga, tersimpan pesan tentang keteguhan petani, rasa syukur, dan semangat menjaga tradisi di tengah perubahan zaman.

Syaharuddin berharap tradisi Mappadendang terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, memperkuat gotong royong, serta menjaga kebersamaan masyarakat desa.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *