
Sidrap, Sidraptimur.com – Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) memperkuat peran sebagai lumbung pangan nasional melalui kerja sama komoditas unggulan dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Kemitraan antar daerah tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan pasokan pangan, khususnya beras, sekaligus mendukung pengendalian inflasi di kedua daerah.
Kerja sama ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara Pemkab Sidrap dan Pemkab Minahasa tentang kerja sama komoditas unggulan antar daerah di Ruang Kerja Kantor Bupati Sidrap, Rabu (1/7/2026).
Rombongan Wakil Bupati Minahasa Venda Sarundajang diterima Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif didampingi Wakil Bupati Nurkanaah. Hadir Ketua DPRD Sidrap Takyuddin Masse, Dandim 1420 Sidrap Letkol Inf Andi Zulhakim Asdar, Sekretaris Daerah Sidrap Andi Rahmat Saleh, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Muhammad Iqbal, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Patahangi Nurdin, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah.
Dari Pemkab Minahasa, turut hadir Sekretaris Daerah Lynda Wantania, Asisten I Rinva Maringka, Asisten III Jani Harry Momung, Inspektur Vicky Christian Tanor, Kepala Dinas Pertanian Margaertha, Kepala Dinas Pangan Maya Kainde, Kepala Dinas Sosial, Kepala BPKAD, serta pejabat lainnya.
Wakil Bupati Minahasa Venda Sarundajang menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemkab Sidrap dan menyebut kerja sama tersebut sebagai langkah memperkuat kemitraan antardaerah. “Dari Kabupaten Minahasa kami sangat semangat. Walaupun menempuh perjalanan yang cukup jauh, tapi kami semangat untuk hadir di tempat ini,” katanya.
Venda memaparkan, Kabupaten Minahasa dengan jumlah penduduk sekitar 340 ribu jiwa masih membutuhkan pasokan beras dari daerah lain karena produksi dalam daerah belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Jumlah penduduk kurang lebih 340 ribu. Di sisi lain produksi beras di Kabupaten Minahasa masih belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kondisi ini menyebabkan Kabupaten Minahasa masih membutuhkan pasokan beras dari daerah lain, khususnya dari Kabupaten Sidrap,” ujarnya.
Ia menilai Sidrap memiliki keunggulan sebagai daerah penghasil beras dengan produksi besar, kualitas baik, dan sistem tata niaga yang terus berkembang.
“Kami mengetahui bahwa Kabupaten Sidrap dikenal sebagai lumbung pangan, tidak saja menopang Sulawesi Selatan tetapi juga nasional.
Dengan produksi berasnya yang besar, kualitasnya baik, serta sistem tata niaga yang terus berkembang. Potensi tersebut menjadi modal penting dalam mendukung kebutuhan pasokan beras di wilayah ini, termasuk juga di nasional,” ungkapnya.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya berkaitan dengan transaksi perdagangan, tetapi juga memperkuat sinergi ekonomi antar daerah. Ia menegaskan, kesepakatan tersebut akan ditindaklanjuti melalui kerja sama bisnis antara pemasok di Sidrap dan pedagang di Minahasa.
“Penandatanganan pada hari ini tidak berhenti pada seremoni. Sebagai bentuk komitmen bersama, kerja sama antar daerah ini akan ditindaklanjuti dengan perjanjian melalui kerja sama business to business antara supplier yang ada di Sidrap dan para pedagang yang ada di Kabupaten Minahasa,” tegasnya.
Selain sektor pangan, Pemkab Minahasa berharap kerja sama dapat berkembang ke bidang pertanian lainnya, perdagangan, sumber daya manusia, hingga pariwisata. Venda juga menyampaikan harapan agar Pemkab Sidrap dapat melakukan kunjungan balasan ke Minahasa.
“Kami tentu berharap ada kunjungan balasan dari Bapak Bupati, Ibu Wakil Bupati, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Sidrap ke Kabupaten Minahasa. Tidak saja menindaklanjuti kerja sama bidang lain, tapi juga datang berwisata di Kabupaten Minahasa,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyambut baik kerja sama tersebut dan menegaskan kesiapan Sidrap menjadi mitra pangan bagi Minahasa.
“Sidrap siap menjadi mitra pangan yang andal. Dengan stok aman dan harga stabil, kita jaga inflasi di dua daerah,” ujarnya.
Syaharuddin memaparkan kekuatan sektor pertanian Sidrap yang terus berkembang melalui modernisasi pertanian. Menurutnya, produktivitas padi Sidrap meningkat signifikan dengan target produksi mencapai 10 ton per hektare.
“Peningkatan produksi biasanya cuma 7 ton per hektare, sekarang wajib 10 ton per hektare atau di atasnya,” katanya.
Peningkatan produksi tersebut didukung infrastruktur pertanian, termasuk ketersediaan jaringan irigasi sekitar 38 ribu hektare serta inovasi listrik masuk sawah untuk lahan tadah hujan. “Soal ketersediaan sarana prasarana air irigasi kami cukup 38 ribu hektare. Lalu sawah tadah hujan, kami menyiapkan metode baru dengan cara listrik masuk sawah,” ujarnya.
Menurutnya, inovasi tersebut telah diterapkan pada 19 ribu hektare sawah tadah hujan. “Itu di sawahnya dipasangkan listrik dan air rakyat. Soal airnya, padi kita bisa dapatkan dari situ. Itu kondisi kami di Sidrap, pertanian sudah modern,” jelasnya.
Bupati juga menyebut penggunaan alat mesin pertanian modern telah mempercepat proses produksi, mulai dari mesin tanam, mesin pengolah tanah, drone sprayer, hingga combine harvester.
“Mulai dari transplanter mesin tanam, mesin pengolah tanah, lalu drone sprayer, kemudian combine. Jadi saya kalau turun panen ke masyarakat, sawah 5 hektare saya bisa selesaikan sendiri dengan hanya 2 jam sampai 3 jam,” katanya.
Selain beras, Sidrap juga memiliki potensi komoditas lain yang dapat dikembangkan dalam kerja sama tersebut, seperti telur dan daging ayam. Saat ini Sidrap memiliki populasi ayam petelur sekitar 5,4 juta ekor dengan produksi telur mencapai 5 juta butir per hari.
“Untuk telur bisa kerja sama juga. Ini peluang penting. Boleh misalnya beras dibawa ke Minahasa, telur termasuk daging ayam. Kami punya 10 juta ekor itu berproduksi terus setiap hari. Lalu telur bebek kami punya sekitar 1,4 juta butir per hari,” tambahnya.
Tidak ada komentar