Hoaks Aphelion! BMKG dan BRIN Jelaskan Penyebab Cuaca Dingin di Indonesia

Masrudin
18 Jul 2025 16:41
Opini 0 737
2 menit membaca

Sidraptimur.com – Suhu dingin yang dirasakan di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini kembali memunculkan isu lama: fenomena aphelion. Di media sosial, pesan berantai ramai menyebutkan bahwa bumi sedang berada di titik terjauh dari matahari, sehingga menyebabkan udara lebih dingin dari biasanya.

Namun benarkah demikian?

BMKG dan BRIN: Cuaca Dingin Bukan Karena Aphelion

Menurut penjelasan resmi BMKG dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), informasi yang menyebut aphelion sebagai penyebab utama suhu dingin adalah tidak benar alias hoaks.

Aphelion sendiri adalah fenomena astronomi saat bumi berada pada jarak terjauh dari matahari, yang tahun ini terjadi pada 5 Juli 2025. Saat itu, jarak bumi ke matahari mencapai sekitar 152,1 juta kilometer. Namun, para ahli menyebut jarak ini tidak cukup signifikan untuk mempengaruhi suhu udara secara ekstrem.

“Perbedaan jarak bumi ke matahari antara aphelion dan perihelion (titik terdekat) hanya sekitar 5 juta kilometer. Itu tidak berpengaruh besar terhadap suhu permukaan bumi,” jelas Andi Pangerang, peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, dalam keterangannya.

Lalu, Apa Penyebab Udara Dingin di Indonesia?

Fenomena udara dingin yang terjadi saat ini justru berkaitan erat dengan kondisi musim dan sirkulasi angin. Indonesia saat ini sedang memasuki musim kemarau, terutama di wilayah selatan khatulistiwa.

Beberapa faktor penyebab udara dingin di musim kemarau antara lain:

Langit cerah tanpa banyak awan menyebabkan pelepasan panas bumi lebih cepat saat malam hari.

Angin Monsun Timur dari Australia yang sedang musim dingin membawa udara kering dan sejuk ke wilayah Indonesia.

Inversi suhu yang menyebabkan udara dingin terjebak di lapisan bawah atmosfer saat malam hingga pagi hari.

BMKG mencatat suhu minimum di beberapa wilayah dataran tinggi sebagai berikut:

Dataran Tinggi Dieng (Jateng): 10°C

Lembang (Jabar): 14°C

Malang (Jatim): 16°C

Ruteng (NTT): 12°C

Suhu ini memang terasa lebih dingin dari biasanya, tetapi masih dalam batas normal untuk musim kemarau di Indonesia.

Hati-Hati Sebar Informasi Tanpa Sumber Resmi

BMKG dan BRIN mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan informasi yang beredar tanpa dasar ilmiah yang kuat. Masyarakat diminta lebih bijak dalam menyaring berita, terutama yang viral di media sosial.

Untuk informasi akurat terkait cuaca dan fenomena langit, masyarakat bisa mengakses situs resmi:

www.bmkg.go.id

www.brin.go.id

Kesimpulan: Aphelion Bukan Biang Keladi Suhu Dingin

Cuaca dingin yang dirasakan sebagian wilayah Indonesia bukan akibat aphelion, melainkan kondisi alamiah musim kemarau dan pergerakan angin musiman. Mari cek dulu kebenaran informasi sebelum ikut menyebarkannya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x